Browsing "Older Posts"

Browsing Category "Mahasiswa"
Kejutan Dari Mbak Suli
portalseksindo.blogspot.com - Siang itu aku agak cepat pulang kuliah, bukan karena malas ikut kuliah yang masih ada, tetapi karena kakiku sakit (mungkin terkilir) dan ada bagian yang membiru sedikit. lagi-lagi karena main sepak bola yang kurang hati-hati, dengan teman sekampus tadi pagi. Dengan naik motor, aku ingin secepatnya pulang dan memberi obat (minyak urut), terus istirahat di rumah.

15 menit kemudian aku sudah tiba di rumah, dan agak sepi kalau jam segini, karena semua pada kerja dan kuliah atau sekolah. Hanya ada pembantu, yang usianya sekitar 35 tahun, biasa dipanggil Mbak Suli. Tapi jangan kaget lho.., badannya terawat dan masih kencang, walaupun kulitnya agak hitam (hitam manislah menurutku). Agak kaget juga aku, setelah dibukakan pintu, kulihat dia mengenakan baju kaos yang agak ketat dan rok putih yang selutut. Tetapi tonjolan di dadanya itu, membuat darahku berdesir cepat.

"Kok pulangnya cepat, Mas..?" katanya menyapa.
Aku memang dipanggil Mas olehnya, singkatan dari Dimas.
"Iya Mbak, kakiku agak sakit, tadi jatuh waktu main sepak bola.." kataku membalas.
Spontan matanya melirik ke kakiku dan berkata, "Coba Mbak lihat, dia pun menarik celana panjangku agak ke atas, "Sakit nggak..?" tambahnya sambil agak menekan bagian yang membiru dan mulai berjangkok.
"Lumayan juga sih.." kataku ssdikit memelas sambil melirik bagian betisnya yang mulus.
Setelah aku berganti pakaian menjadi celana pendek, dia membalur kakiku dengan minyak urut. Saat itu dia duduk di depanku dan kulihat pahanya karena roknya tersingkap. Karena posisiku yang yang duduk dan kaki agak ditekuk, dia tidak tahu bahwa kejantananku sudah mulai bangkit. Dia pun mengurut-ngurut dan memijit bagian kakiku yang sakit. Mataku juga tidak lepas dari dadanya yang menonjol sebesar mangga.

Dengan perlahan, kuberanikan memegang pahanya di bagian yang tersingkap. Dia agak kaget dan berkata, "Mas, kamu mulai nakal, ya..?" ucapnya sambil melirikku.
"Nggak pa-pa kan..? Cuma dikit kok..!" balasku seadanya.
Lama kelamaan tanganku mulai bergerak lebih ke atas dan sampai di pangkal pahanya.
"Jangan nakal lho, ntar ada yang lihat..!" katanya mencoba memindahkan tanganku dari pahanya.
"Nggak ada orang kok Mbak, cuma kita berdua kok..!" ucapku terus membujuknya.
Dia masih mengurut kakiku dan kucoba untuk menampakkan celana dalamku lewat celah celana pendekku.
Dengan keberanian yang menggebu, aku berkata, "Boleh kulihat yang di balik roknya Mbak..?" kataku menggoda lagi.
"Jangan Mas, Mbak malu.." katanya sedikit ragu.
"Ayo dong Mbak, sekali aja..!" ucapku sedikit membujuk.
Mula-mula dia ragu, dan akhirnya dia berbicara, "Jangan bilang siapapun ya..?" katanya sambil mengedipkan mata.
Kujawab, "Aku janji deh, ini menjadi rahasia kita aja.."

Perlahan dilepaskannya roknya, dan wow.., terlihatlah pahanya yang mulus dengan celana dalam merah muda. Agak lama kupandangi, karena itu benar-benar pemandangan yang indah, dan kejantananku mulai membengkak di celanaku. Perlahan kupegang celana dalamnya, dan kudekatkan wajahku ke arah celana dalamnya. Wow.., baunya wangi sekali, mungkin dia baru mandi tadi.
"Sudah cukup kan..?" katanya sambil menjauhkan wajahku dari pahanya dan mencoba memakai roknya lagi.
Tetapi hal itu dengan cepat kucegah, "Ntar dulu Mbak, saya pingin lihat di balik celana itu, boleh ya..?" kataku membujuk.
"Yee.., sudah dikasih hati malah minta jantung..!" ucapnya sedikit menyindirku.
"Mbak tau nggak, jantungku debar-debar nih.., dan aku terangsang.." kataku mencoba menyatakan bahwa aku benar-benar terangsang.
Sambil bercanda dia menjawab, "Masak gitu aja terangsang, Mbak nggak percaya, kamu pasti cuma iseng, mau mempermainkan Mbak, ya..?" katanya membalas ucapanku.
"Kalau nggak percaya, coba lihat nih..!" kataku sambil menurunkan celana pendekku.
Dia agak kaget karena celana dalamku seperti penuh dan menonjol besar di bagian penisku.
"Bener juga, kamu nggak boong.., kamu terangsang ya..?" katanya melirikku nakal sambil tersemyum.

Agak lama dia melihatnya, kemudian mengelus dan mengusap-usap, dan mendekatkan wajahnya ke dekat celana dalamku.
"Sekarang kita sama-sama buka, gimana Mbak..?" kataku memberi tawaran gila (he-he-he).
Mungkin karena sudah terangsang dan sangat ingin melihat penisku, akhirnya dia mengangguk. Perlahan dia menurunkan celanaku, dan tampaklah kejantananku berdiri tegak dan siaga.
"Wow.., hmm.., punyamu lebih besar dari yang Mbak bayangkan, tapi Mbak suka yang besar seperti ini." katanya sambil mengelus, menyentuh kepala penisku dengan jarinya dan kemudian mengocoknya.
"Aahh.., ouch.., ouch.." aku mengerang nikmat, sementara dia terus mengocok sampai penisku terlihat memanjang maksimal.

Mungkin dia sudah tidak tahan, dia mulai mengulum dan meghisap penisku.
"Ouch.., ouch.., ah.. ah.., nikmat sekali..!" aku mendesis kenikmatan, sementara tanganku sudah membuka celana dalamnya.
Dan wow.., benar-benar pemandangan yang indah, bulu-bulu halus di sekitar vaginanya yang kemerahan sangat merangsang birahiku. Jariku menyentuh dan menggesek bibir vaginanya.
"Oh.., ahh.., ahh.., terus Mas, gesekin terus..! Ahh.., ahh..!" suaranya mendesah-desah.
Kudekatkan wajahku ke vaginanya, menciuminya dan menjilatnya. Celahnya mulai agak basah, mungkin dia sudah terangsang hebat, sementara kemaluanku terus dikulumnya, bahkan sekarang lebih dahsyat sampai ke pangkalnya. Aku merasakan hangat mulutnya, dan kemaluanku seperti panas sekali dan mau mengeluarkan sesuatu. Tanpa dapat kutahan, spermaku muncrat di mulutnya untuk pertama kali.

"Ohh.., ahh.., kamu udah keluar Mas.., ahh.., enakk.., gurih..!" katanya sambil menjilat sperma yang keluar dari mulutnya, sementara lidahku terus bergerilia di celah vaginanya, bahkan lidahku berusaha masuk lebih ke dalam dan terus menyeruak di seluruh dinding vaginanya.
"Ouch.., ahh.., ahh.., lebih dalam, Mas..!" pintanya sambil mendesis-desis.
Aku mendengar dia mendesis dan menyerocos tidak karuan, dan mulai mengocok kemaluanku lagi sehingga membesar kembali. Hanya dalam hitungan menit, punyaku sudah membesar lagi dan mencapai ukuran yang maksimal.
"Sekarang saya masukin ke vagina Mbak aja, oke..?" kataku sudah tidak sabaran.
"Ehe.., ya Mas, Mbak juga sudah nggak tahan nich..!" katanya sambil membuka kedua pahanya lebar-lebar, sehingga vaginanya tampak membelah dan merekah.
"Oouh.. ss.., darahku berdesir semakin cepat melihat vagina yang merekah seperti itu.

Sambil memegang kemaluanku yang tegang, kuarahkan ke lubang tersebut. Sesaat kepala penisku kugesekkan ke bibir vaginanya, kemudian dengan sedikit ditekan, dan, "Bless..!" masuk seluruhnya ke dalam liang vaginanya.
"Ouh.., och.., ahh.., terus Mas, lebih dalam..! Ahh.., ahh..!" desisnya mengikuti gerakan masuknya batang kejantananku.
Aku pun semakin bersemangat menggenjotnya dan memaju-mundurkan kemaluanku di dalam vaginanya. Sementara tanganku tidak lepas memegangi puting payudaranya yang mengencang.
"Terus, terus Mas, enak.., nikmatt.., ah.., ah..!" ucapannya sudah terdengar tidak karuan.

Sekitar 10 menit dengan posisi tersebut, aku mengeluarkan kemaluanku yang masih menegang.
"Mbak, sekarang kita rubah posisi ya..? Pasti lebih nikmat..!" kataku ingin mencoba gaya lain.
"Posisinya gimana Mas..?" dia bertanya balik.
"Mbak menungging saja, kakinya diangkat sebelah dan letakkan di meja, dan Mbak membelakangi saya..!" saranku memberi penjelasan, dia menurut saja.
Aku tertawa dalam hati (soalnya ini seperti anjing pipis, he-he-he). Dia sudah mengambil posisi seperti itu dan aku dapat melihat celah vaginanya mengintip dari belakang. Dengan memegang kemaluanku yang tegang, kuarahkan ke celah itu. Dengan sedikit tekanan, kepala penisku masuk, dan masuknya terasa lebih sempit dari yang tadi. Sengaja tidak kumasukkan seluruhnya dan kutanya kepadanya, "Gimana..? Lebih enak kan..?" kataku.
"Ehe.., ahh.., lebih enak dari yang tadi, ahh.., oh.., enak.., ahh..!" suaranya mendesah lagi.
"Ini belum seluruhnya lo Mbak, baru sebagian..!" aku mencoba menggodanya lagi.
"Masukin semua dong, Mas..! Biar terasa lebih enak lagi..!" pintanya.

Dengan menekan lebih kuat, maka kemaluanku masuk seluruhnya. Dan oh.., betapa nikmatnya, serasa berada di awang-awang.
"Ah.., oh.., aah.., nikmat sekali, tekan lebih kuat Mas.., lebih dalam, ahh, ahh..!"
Sesekali dia menggoyang pinggulnya, dan ohh.., benar-benar luar biasa goyangan pinggulnya, punyaku seperti ditarik dan diurut-urut di dalam vaginanya.
"Oh.., ah.., aku tak ingin berhenti capat-cepat, goyangin terus Mbak..!" kataku.

Sekitar 10 menit aku memaju-mundurkan kemaluanku ke vaginanya, rasanya aku sudah berada di puncak dan mau memuntahkan lahar.
"Mbak, aku sudah mau keluar nich..!" kataku.
Dia membalas, "Aku juga mau keluar nich. Kita keluar sama-sama ya..?" pintanya.
Dengan menggenjot lebih kuat agar cepat sampai ke puncak kenikmatan, maka kumulai menekan lagi lebih cepat. Dan akhirnya, "Ouc.., ah.., ah.." dengan erangan panjang, aku memuntahkan spermakau di vaginanya.
Bersamaan dengan itu Mbak juga mengerang panjang, "Ouh.., ouc.., ah.., ah.., nikmat.. ah.."
Sementara di vaginanya aku merasakan punyaku disemburi cairan vaginanya, terasa begitu hangat.

Perlahan kutarik punyaku keluar, terlihat sudah mulai mengecil. Kami tergolek di tempat tidur dan saling berpandangan.
"Mbak.., nggak menyesal kan..?" tanyaku.
"Ah.. nggak, kamu bandel dan bisa memuaskan Mbak." dia membalasku.
"Tapi saya khawatir Mbak, soalnya tadi keluar di dalam." tanyaku sedikit khawatir.
"Nggak pa-pa, Mbak tidak dalam masa subur kok, Mbak tidak akan hamil..!" jelasnya.
Wajahku sedikit lega setelah mendengar perkataanya.
Dengan sedikit menggoda aku berkata, "Aku suka melihat wanita menggunakan celana dalam putih atau merah muda (karena dia memang banyak punya celana dalam putih dan merah muda)."
"Idih..! Kamu suka mengintip Mbak ya..?" dia bertanya balik.
"Kadanga-kadang aja, pas Mbak lagi tidur atau mandi.." kataku menggoda nakal.
"Kamu nakal sekali..!" katanya sambil mencoba mencubitku.
"Tapi Mbak suka kan..?" godaku lagi.
Dia hanya tersenyum tersipu-sipu.

Setelah kejadian itu, aku merasa ketagihan dengan Mbak Suli. Aku tidak tahu apakah dia ketagihan juga. Sering kali di waktu malam aku menyelinap ke kamarnya yang sengaja tidakdikuncinya, lalu kami pun bergumul di situ sampai kelelahan dan aku pun sering tertidur di situ. Tapi sebelum subuh aku sudah balik ke kamarku, maksudnya biar tidak ketahuan, he.. he..he..

TAMAT

Kejutan Dari Mbak Suli

By Unknown → Selasa, 21 April 2015
Petualangan Seks Di Jogja
portalseksindo.blogspot.com - Sebut saja namaku Andre. Usiaku saat ini 28 tahun. Kisah ini terjadi saat aku masih kuliah di sebuah Perguruan Tinggi Swasta di kota Y.

*****

Nama gadis itu sebut saja Afriani. Usianya 21 tahun. Rambut panjang sebahu. Kulitnya putih. Tinggi 165 cm. Dia satu jurusan dengan ku. Hobby nya main basket putri. Afriani juga senang ikut senam aerobik. Kebetulan di kampus ku ada ekstra kurikuler aerobik.



Kebetulan kami berasal dari satu daerah yang sama. Jadi kami cepat merasa akrab. Dia memanggilku Abang Andre. Anak nya periang dan suka tertawa. Afriani mempunyai seorang kakak laki-laki yang juga kuliah di sini yang biasanya dipanggilnya Bang Rico, kost di tempat lain.

Setelah sering ngobrol bersama, aku mulai sering jalan-jalan dengan Afriani. Setiap sore Afriani ku jemput ke kostnya pake mobilku. Kami jalan ke Malioboro Mall, Parang Tritis, Kaliurang dan tempat-tempat wisata lainnya. Begitulah hari-hari indah yang kami lalui. Belakangan kuketahui bahwa Afriani telah mempunyai cowok. Tetapi dia masih tetap jalan denganku.

Suatu hari di kampus dia berkata padaku,
"Bang.., jalan-jalan yuk. Aku lagi pusing nih..", kata Afriani.
"Hmm.. boleh. Adek lagi ada masalah ya..", kataku.
Dia hanya tersenyum saja. Aku pun mengerti. Lalu kami pun pergi.

Selama di perjalanan tampak Afriani banyak termenung. Entah apa yang dipikirkannya aku tak tahu. Aku mengemudikan mobilku dengan pelan sambil menyetel musik slow. Ku biarkan saja Afriani menenangkan dirinya. Hari telah pukul 17.50 WIB. Kami duduk di food centre Malioboro Mall lantai atas. Kami memesan makanan dan minuman.
"Bang.., Adek lagi pusing nih", kata Afriani.
"Ada masalah apa Dek?", kataku.
"Abang nya Adek kemaren kena over dosis lagi. Papa marah-marah sama Adek karena nggak bisa memperhatikan Abang Rico."

Aku diam sejenak sambil memikir jalan keluar nya. Afriani pernah bercerita padaku tentang abangnya yang bernama Rico itu kecanduan obat terlarang dan telah over dosis 2 kali, ini yang ketiga kalinya.
"Begini saja..", kataku.
"Biar Bang Rico sembuh dulu, terus di bawa pulang ke Sumatera. Biar papa saja yang menangani masalah Bang Rico. Mungkin setelah di bawa ke Sumatera dia dapat insaf dari narkoba", kataku.
Afriani tampak merenung mendengar saranku.
"Tapi Adek takut nanti papa ikut membawa Adek pulang juga", kata Afriani.
"Tenang saja.., Adek kan tidak berbuat salah. Adek tidak ikut narkoba. Kenapa harus takut di bawa pulang ke Sumatera? Mending Adek berdo'a saja agar Bang Rico cepat sembuh dan insyaf atas perbuatannya. Ingat Dek.. kita masih harus menyelesaikan kuliah kita. Jangan sampai orang tua kita kecewa sama kita"
Afriani diam saja. Tapi agaknya dia merasa terhibur dengan kata-kataku tadi. Tak lama kemudian dia memandangku sambil tersenyum.
"Terima kasih ya Bang atas sarannya."
Aku mengangguk sambil tersenyum. Tak terasa kami sudah 2 jam di Mall. Waktu menunjukkan pukul 19.30 WIB. Kemudian kami pun meninggalkan Malioboro Mall.
"Bang.., Adek mau malam ini di dekat Abang. Adek nggak mau pulang ke kost-kostan", kata Afriani sewaktu kami di dalam mobil.
Aku memandangnya sejenak. Lalu aku berpikir berarti Afriani memang sedang butuh pendamping.
"Bagaimana kalau kita ke Kaliurang saja?", kata Afriani dengan mata berbinar-binar.
"Hmm.., boleh juga tuh", kataku sambil tersenyum.
Lalu kami pun melaju ke Kaliurang setelah sebelumnya kami membeli makanan kecil dan minuman soft drink.

Sesampainya di Kaliurang, aku pun mencari penginapan. Di Kaliurang memang banyak terdapat penginapan baik hotel maupun motel. Aku memesan kamar. Di dalam kamar udara terasa dingin. Maklum, Kaliurang terletak di bawah kaki gunung Merapi. Hari telah menunjukkan pukul 22.00 WIB. Afriani duduk di pinggir tempat tidur, aku duduk di kursi dekat tempat tidur. Kami saling berpandangan.
"Bang..", Afriani memandangku sambil tersenyum. Bibirnya merah merekah.
Kupandangi Afriani sambil menikmati wajahnya. Lalu aku mendekat. Afriani diam saja. Aku mulai ingin mencium bibirnya. Mukaku ku ke dekat kan ke wajahnya. Dia diam saja. Lalu ku pagut pelan bibirnya. Afriani memelukku sambil berciuman. Dia membalas ciumanku. Dimasukkannya lidahnya ke dalam mulutku. Kuhisap lidahnya dan memainkan lidahku juga.

Napas kami mulai memburu. Mendesah semakin cepat kami berciuman. Tanganku mulai meraba-raba. Terasa dada Afriani begitu kenyal. Ku remas dadanya semakin lama semakin cepat. Kubaringkan Afriani sambil membuka bajunya. Dia pun membuka bajuku sambil kami terus berpagut. Kontol ku berdiri mengeras dengan cepat. Tanganku meraba turun samapi ke bawah pusarnya. Kuraba memeknya dari celana luarnya. Afriani masih memakai celana panjang kain. Kubuka resleting celana nya dan memelorotkan celana nya.

Kini dia hanya memakai celana dalam saja warna hitam. Kontolku semakin keras. Kuraba celana dalamnya, terasa hangat. Lalu kumasukkan tangan ku ke dalam celana dalam nya. Afriani menggelinjang.
"Bang.., hh", napasnya memburu.
"Aku cinta kamu..", kubisikkan lembut di telinganya.
Tanganku masih terus mengocok kemaluannya. Dia sudah basah. Tiba-tiba Afriani membalikkan tubuh ku berbaring. Aku di bawah, dia diatas. Ternyata dia membuka celana jeans ku. Dia berlutut di atas ku. Dia mengeluarkan kontolku yang telah keras sekali. Di kocok nya punyaku, lalu di kulumnya. Aku terkejut. Baru kali ini punyaku dihisap oleh wanita. Rasanya nikmat sekali, sampai ke ubun-ubun. Kontolku keras sekali.
"Bang.., hh.", Afriani menatapku dengan nafas yang memburu.
Langsung dia berjongkok diatasku. Diarahkannya kontolku ke memeknya, pelan tapi pasti. Lalu ditekannya pantatnya, sehingga kontolku ditelan memeknya hingga amblas semua. Digenjotnya pantatnya naik turun dengan tergesa-gesa. Tampaknya dia telah di puncak nafsu.
"Oh.., God. Bang.. shh.. ahh", katanya meracau.
"Terus Dek.. hh", nafasku memburu juga.
Terdengar bunyi "clop-clop" dari memeknya. Dia sudah basah sekali. Terasa cairan hangat membalut senjataku.
"Ohh.. ahh.. Bbaanngghh.., ehnhhaakkh Bbaanghh".
"Abanghh juga.. ennaakhh deekk.. hh", kataku.
Tiga menit kemudian tiba-tiba dia menggigit bahuku.
"Ooohhkk.. aahh..", ternyata dia telah orgasme.

Kuganti posisi, kubaringkan dia. Kini dia di bawah dan aku diatas. Kugoyang dia dengan penuh semangat. Dilingkarkannya kakinya ke pinggangku. Aku belum orgasme. Dia menggoyang-goyang pinggulnya mengimbangiku. Telah empat menit berlalu dia di bawah, kugoyang. Tampaknya dia mulai semangat kembali.
"Nungging Dek..", pintaku.
Kini dia menungging. Seperti gaya doggie style di film, aku penasaran bagaimana rasa doggie style. Didongakkannya pantatnya, tangannya menopang tubuhnya. Kugoyang dia dari belakang.
"Ooohh.. Deekk", kataku keenakan.
Ternyata gaya doggie style ini nikmat sekali. Aku merasa nikmat sekali. Telah 3 menit ku goyang dari belakang. Dia menggoyang-goyang pantatnya muter-muter. Aku tak tahan lagi. Kupercepat goyanganku. Aku nyaris orgasme. Dia juga. Kubalik lagi di dengan posisi aku diatas, dia kutiduri.
"Ahh.. ohh.."
"Abang hampir keluar Dek..", kataku.
"Adek juga Bang.. hh"
Kami sama-sama mempercepat gerakan.
"Aaa.. aahh.. hh.. hh..", erang kami bersamaan.
Kutindih dia sambil orgasme, Afriani memelukku erat sekali. Kami orgasme bersama. Kurang lebih 24 menit kami berpacu dalam gairah. Kami berpelukan sambil berciuman dan akhirnya tertidur.

Jam 03.10 WIB aku terbangun. Kuelus dia hingga terjaga. Nafsuku bangkit lagi. Kami mengulanginya lagi. Napas kami memburu. Kali ini kami bertempur lebih lama. Empat puluh menit lebih kami berpacu dalam gairah. Lalu kami pun kembali terkapar terlelap. Paginya pukul 06.00 WIB kami terbangun lagi. Kami mandi bersama di kamar mandi. Paginya pukul 06.00 WIB kami terbangun lagi. Kami mandi bersama di kamar mandi.
"Adek gosok ya badan Abang", katanya.
"Boleh.., gosok aja", kataku.
Diguyurnya tubuhku. Terasa dingin sekali, tapi berkat tangannya yang hangat aku tidak kedinginan. Enak juga rupanya dimandiin cewek. Aku pun menggosok-gosok badannya dengan lembut. Kugosok buah dadanya, sementara dia menggosok senjataku. Pelan dan hangat.

Makin lama gosokan kami semakin cepat. Kugosok memeknya dengan busa sabun. Dia mengangkangkan kakinya. Kontolku pun dipijat nya dengan kuat.
"Banghh..", napasnya mulai tersengal.
Kami berpagut bibir sambil menggosok-gosok kemaluan dia dan aku.
Kuangkat badannya, ku duduk kan di tepi bak. Dia telah basah dan kontolku telah tegang. Dia mengangkangkan kakinya. Kuarahkan penis ku ke bibir kemaluan Afriani.
"Ayo.. Bang.. Adek sudah nggak kuat nih", katanya.
"Abang juga Dek", kataku.
Kuletakkan senjataku di bibir kemaluannya, lalu kudorong perlahan. Bleess.., akhirnya masuk juga semua senjataku.
"Akh..", dia menjerit tertahan.
"Enak Bang..", katanya.
"Iya.. Dek. Abang juga keenakan", kataku.
Clop.. clop.., bunyi kamaluan kami beradu. Kugoyang dia maju mundur, sambil dia melingkarkan kakinya di pinggangku.

Tiga menit kemudian kugendong dia sambil berjalan memutar-mutar kamar mandi. Jadi dia kukentot sambil berjalan, dia memelukku erat. Napas hangatnya terasa di telingaku saat dia menciumku. Bertempur di kamar mandi sambil menikmati dinginnya air pagi, ternyata enak juga. Segar sekaligus asyik. Tiga puluh menit lebih kami bertempur.
"Banghh.., Adek keluar nih", katanya.
Terasa cairan hangat mengalir di senjataku. Rupanya dia telah keluar.
"Abang juga hampir keluar nih", kataku.
"Ahh.. Deekk", kataku sambil kusandarkan dia ke dinding kamar mandi sambil kutekan kuat penisku.
Dia memelukku erat.
Bertempur di kamar mandi sambil menikmati dinginnya air pagi, ternyata enak juga. Segar sekaligus asyik. Kami sama-sama tertawa. Lalu kami membilas tubuh kami dan berpakaian kembali.

Setelah itu kami memesan makanan dari kamar. Kami memesan 2 piring nasi goreng dan 1 gelas teh panas serta 1 gelas jeruk panas.
"Makasih ya Bang atas perhatian Abang sama Adek", kata dia kepadaku.
"Sama-sama. Yang penting Abang pengin lihat Adek selalu bahagia", kataku.
Dia tersenyum. Lalu kami pun sarapan.

Setelah sarapan kami turun kembali ke kota. Kuantarkan Afriani ke kostnya. Sebelum turun dari mobil, Afriani menciumku lama sekali. Lalu aku pun kembali ke kostku. Setelah kejadian itu kami mengulangnya beberapa kali sampai akhirnya aku pun meninggalkan kota Y.

E N D

Petualangan Seks Di Jogja

By Unknown → Senin, 09 Maret 2015

Pijatan Plus-plus Gita Memancing Gairahku
portalseksindo.blogspot.com - Gita memantapkan hati dan niatnya sebelum ia memasuki sebuah rumah mewah di depannya, namun ia berharap tak ada yang melihatnya memasuki tempat itu.

Sesampainya di dalam keraguan kembali muncul dihatinya,

"haruskah aku melakukan semua ini...?"

namun ia teringat akan segala kebutuhannya, ia tak punya uang lagi untuk memenuhinya.
ayahnya ditangkap polisi dengan tuduhan korupsi , seluruh harta orang tuanya disita, ibunya meninggal karena stress. Kini ia menjadi mantap, ia harus melakukan ini atau ia tak akan punya uang sepeser pun bahkan untuk membeli makanan

"cari siapa ya...?" seorang wanita setengah baya menyambutnya di depan pintu.

"anu..maaf...saya...mau cari pekerjaan..." kata gita.

"pekerjaan..?" wanita itu kelihatan heran dan sedikit curiga , " disini....?"

gita sedikit bingung harus bicara apa.

"iya..pekerjaan...sebagai..emmm.sebagai....." gita berusaha mencari kata kata yg tepat

"kamu tahu ini tempat apa....?" kata wanita itu bernada menyelidik

" ya..saya tahu...." gita mengangguk
"pernah melakukan ini sebelumnya..?" tanya wanita itu

gita menggelengkan kepala

"hmmm..kamu masih kuliah.....?"
"iya.....tapi saya...."

"butuh uang.....standar lah disini..." kata wanita itu memotong

"nama kamu siapa...?" tanya wanita itu sambil melambai memanggil seseorang
"gita...tante....."
seorang wanita muda berpakaian sangat sexy datang mendekat
"nah..gita.....kamu tahu kan apa kerjaan di panti pijat..? setiap dapat klien kamu dibayar seratus ribu, kalo mereka mau dipijat bugil ada tambahan biaya....."
panjang lebar wanita itu menjelaskan tentang upah gita selama ia bekerja ditempat itu.
setelah gita menyetujuinya ia menyuruh wanita muda tadi untuk membawa gita,
"susan, coba kamu bawa gita berkeliling "

sambil berkeliling memperlihatkan fasilitas panti pijat itu, susan juga mengingatkan jika terkadang ada klien yg permintaannya aneh aneh, bahkan sampai bondage.
mendengar cerita susan, gita kembali ragu, namun ia sudah terlanjur masuk ia bertekad akan menjalani semua ini.

gita sebenarnya gadis yg cukup cantik , meski nasibnya tak seindah wajahnya, wajahnya yg "innocence" membuat gemas banyak pria, rambut sebahu , buah dada 30B, dan pantatnya yg bulat sempurna, dengan penampilan seperti itu, bahkan gita lebih terlihat sebagai pelajar sma dibandingkan mahasiswi.

gita kemudian dibawa ke sebuah ruangan dimana telah menunggu seorang pria usia 30 tahunan.

"dia pemilik panti pijat ini....namanya oom bob" kata susan.

susan kemudian berbicara sejenak dengan bob , lalu meninggalkan gita berduaan disana.

"halo...saya bob....panggil saja oom bob...." kata bob sambil mengulurkan tangannya

"gita, oom..." jawab gita menyambut uluran tangan bob.

bob tidak segera melepaskan genggaman tangannya, ia menatap gita bagai sedang menaksir sebuah karya seni.
"ok kalau begitu..." katanya kemudian sambil melepaskan jabatan tangannya.

bob kemudian melepaskan satu persatu pakaiannya, sehingga ia telanjang bulat, penisnya kelihattan cukup besar, setidaknya membuat gita agak tercekat.

"nah gita..coba urut punya oom......"kata bob.

gita perlahan mendekat dan berlutut d antara kaki oom bob, kedua tangannya menggenggam penis bob, dan dengan gerakan yang teratur ia mulai memijit penis bob, naik turun.
Bob terlihat tersenyum dan puas dengan pijitan gita,
"coba pake mulut ....." perintahnya

gita dengan patuh memasukkan penis itu ke dalam mulutnya, dan menyusuri penis tersebut maju mundur dengan bibirnya, suara geraman dan kocokan berirama mengiri semua nya.

"uughh...you are....uughhh...." bob menggeram sambil meremas rambut gita sampai acak acakan.
gita terus melakukan oral dengan santai, ia sering melakukannya dengan mantan pacarnya dulu.
sampai beberapa lama akhirnya , penis oom bob menyemburkan cairannya, oom bob menahan kepala gita agar seluruh spermanya tertelan oleh gadis itu.

"hahahah..bagus..bagus...kamu berbakat juga ternyata.......hahahaha...kamu diterima......"
kata oom bob senang.
gita masih berlutut dilantai dan tertunduk malu, kini sudah tak mungkin lagi untuk kembali.

----------------------------------------------------------------------------

Sabtu malam adalah malam pertama gita menjalani pekerjaanya sebagai massage girl.

"anak anak....pak burhan sudah datang...." kata tante mirna sambil mengantar seseorang yg wajahnya sepertinya gita kenal, pak burhan adalah salah seorang pejabat pemerintah, dan wajahnya sering muncul di televisi menyuarakan gerakan moral , sangat bertolak belakang dengan apa yg dia lakukan sekarang.

sebagai pelanggan tetap tempat itu, mata pak burhan langsung menangkap barang baru di tempat itu.
tak mempedulikan godaan para perempuan lain , ia mendekati gita.

"hai...gadis manis....kamu siapa....?" tanya pak burhan....
"ehh..gita ..ehh..oom...."jawab gita
"baru ya disini....." tanya pak burhan
"ini emang hari pertamanya dia oom..." susan yg menjawab
ditimpali dengan anggukan kepala gita.
"ooh.....bagus..ayo.....langsung ke dalam...oom udah pegel pegel nih..." kata pak burhan sambil menarik tangan gita masuk ke sebuah kamar.
gita sedikit senang dan gugup menghadapi pelanggan pertamanya.

"oom mau mandi dulu..?" tanya gita
"ga usah...langsung aja...."kata pak burhan sambil melepaskn seluruh pakaiannya, sementara gita merapikan tempat tidur dan baby oil.

"loo..kok bajunya ga dibuka..." kata pak burhan ketika melihat gita berdiri di sisi ranjang masih berpakaian lengkap.
"oom bukain ya..." kata pak burhan sambil membuka satu persatu kancing baju gita, dan melemparkan jatuh blouse gita, sambil melepas bra gita , pak burhan menyempatkan meremas sejenak buah dada gita yg menggiurkan itu, barulah ia kemudian melepas rok dan dalamn gita, sehingga gita pun kini tealnjang bulat.

pak burhan lalu berbarin telungkup di ranjang , dan gita mulai melakukan pemijatan. saat gita meratakan baby oil di punggung pak burhan dan memijat, pak burhan dengan santai mengajaknya mengobrol banyak hal, sehingga suasananya cukup cair., pak burhan tak henti henti memuji pijatan dan sentuhan gita.

kemudian pak burhan membalikkan badan, penisnya tegak tegang perkasa.
"pijat refleksinya dong ...." kata pak burhan sambil tersenyum, gita mengerti maksudnya.
giat mulai memijat mijat penis pak burhan, sementara pak burhan aktif meremas remas buah dada gita,
gita memijat, dan mengocok makin kuat saat rangsangan di buah dadanya membuatnya semakin terbang melayang.
gita kemudian menggantikan tangan dengan mulutnya, penis besar pak burhan kini memenuhi mulutnya,
dengan mulutnya ia menghisap dan bergerak naik turun menyusuri panjang penis itu.

"uagghhhh..gila....hebat kamu......" kaya pak burhan terlihat puas
gita terus mengocok, mengulum , dan menjilat penis itu sehingga membuat pak burhan semakin terbuai oleh kenikmatan.

tak butuh waktu lama sampai penis itu semakin mengang dan mengejang dan akhirnya menyemburkan seluruh isinya, gita membersihkan sisa sisa sperma dengan menjilatinya, membuat pak burhan semakin tertawa puas, ia pun memberi tip yang cukup besar.

malam pertama gita , ia harus melayani 6 orang tamu, namun hasil yg didapatkan cukup lumayan, ia tak akan menyesali keputusannya terjun ke dunia seperti ini.

---------------------------------------------------------------------------------

malam mingu berikutnya, tante mirna menyuruh gita untuk memakai seragam sma, karena ada pelanggan yg menginginkan dipijat oleh gadis sma.
dengan wajah polos gita, tak sulit bagi gita untuk menjelma menjadi gadis sma.
malam itu gita memakai kemaja putih sma ketat dengan dua kancing atasnya dibuka, dan rok abu abu pendek, dibaliknya ia tak memakai apa apa lagi.

pukul 9 malam, pelanggan itu tiba, dan langsung terpana melihat kecantikan dan kemolekan gita yang terbalut seragam sma.
pelanggan yang dimaksud ternyata adalah pak chandra, ia adalah salah seroang konglomerat papan atas indonesia, beberapa hari lalu ia baru lolos dari tuduhan korupsi , maka hari ini ia ingin merayakannya.

"halo..saya chandra.....kamu pasti gita..?"
"betul oom...."
'yukk...." pak chandra tak sabar membawa gita ke kamar.

"oom...mau mandi dulu......" tanya gita
"iya..tapi kamu lihat ya...." kata pak chandra sambil mencolek buah dada gita.

pak chandra pun mandi dengan pintu terbuka agar gita bisa melihatnya, dan ia meminta gita selagi ia mandi, gita harus melakukan rangsangan sendiri.

dan begitulah, sambil pak chandra di kamar mandi, gita mengelus ngelus pahanya sendiri sampai ke pangkal paha, menyibakan rok pendeknya, kemudian tangannya meremas remas buah dadanya sendiri sambil mengerang dan merintih..

"aahhhhh...awww,,,aauuhhh........ahhhhhhhh.... ."

ia membuka satu persatu kancing bajunya , memperlihatkan buah dadanya , meremasnya kembali dan memainkan putingnya.

"oooooh........aaaahhhhh...ooouuhhhhh......aww ww.. ....."

entah karena ia terangsang atau menjiwai , ia tak menyadari pak chandra mendekatinya, ia baru menyadari saat penis pak chandra sudah ada di depan mulutnya, tanpa membuang waktu sedetik pun , penis tersebut telah masuk ke mulut gita.
gita mulai memaju mundurkan kepalanya, memberikan sensasi kenikmatan pada penis pak chandra.
gita memainkan jurus jilatan dan hisapan mautnya , sampai akhirnya sperma pak chandra menyembur masuk ke mulutnya....

'huhuhu..bagus..bagus..." kata pak chandra

pak chandra kemudian menerkam dan menindih tubuh gita, buah dada gadis itu diremas dan disedot sedotnya bagai bayi, membuat gita mengerang dan merintih...

"oooooh....oom......pelan....oom.......ahhhhhh hh.. awhhhhh...."

pak chandra kemudian menyusuri lekuk lekuk tubuh gita dengan lidahnya, menimbulkan sensasi geli dan birahi pada gita.

"ooh....hihii..awahhh..geliii..aww.....oom.... ahhh ....oom......."

gita semakin menggelinjang tak karuan saat sapuan lidah pak chandra mencapai klitorisnya, birahinya kini sudah hampir mencapai puncaknya.

puas menjilati dan meng "obok obok" tubuh gita , pak burhan menyuruh gita untuk bersiap dlm posisi doggy style.

setelah bersiap pada posisinya, dengan lembut dan perlahan pak chandra mulai memasukan penisnya,
dan mendorongnya perlahan, namun kian lama kian cepat.
sambil menggenjot gita, tangan pak chandra tidak menganggur, buah dada gita yg menggantung ia remas remas, bebrapa kali pantat gita ia pukul sampai memerah.

"aww...oom.......uuhhhh...pe...aahh..lan...... .don g...ahhhhh..."

setiap sodokan pak chandra membuat gita semakin dekat pada orgasme, ia membenamkan wajahnya di bantal menahan suara rintihan dan erangan kenikmatan dari mulutnya.

"uughh.....gita...uughhh..kamu....hebat....ahh h... ." geram pak chandra
keduanya menggeram dan mengerang menambah erotis suasana ruangan itu, smpai akhirnya keduanya bersamaan mencapai orgasme....

"aaaaaaaahhhhhh....aahhhhhhh..." gita berteriak panjang

lengan dan lutut gita melemah membuatnya ambruk di kasur dengan tubuh pak chandra diatasnya, dengan penis masih menancap, malam itu mereka akhiri dengan mandi bersama, di kamar mandi pak chandra masih sempat menyetubuhi gita dengan posisi berdiri, membuat seluruh tenaga gita habis malam itu.

tips dari pak chandra adalah yg paling besar dari semua tips yg ia terima, hal yg layak ia terima mengngat ia harus bekerja sangat keras, untunglah tante mirna mengerti keadaanya dan menyuruh gita beristirahat dan tidak menerima tamu dulu.

pak chandra dan pak burhan menjadi langganan tetap gita disana, mereka berdua tak mau dilayani siapapun kecuali gita.
sampai pada akhirnya pak burhan ingin memiliki gita hanya untuk miliknya, ia menebus gita dari tante mirna , dan menjadikan gita sebagai simpanannya sampai sekarang.
hal itu menjadi berkah tersendiri bagi gita, kini ia tak lagi khawatir akan kehabisan uang , rumah dan mobil pun kini ia punya, meski jauh dalam hatinya ia berharap ia bisa hidup normal dan menjalani kehidupan bekeluarga seperti halnya orang lain.....hanya saja...entah kapan..........

Pijatan Plus-plus Gita Memancing Gairahku

By Unknown → Kamis, 05 Februari 2015

Petualangan Seksku Dengan Putri
portalseksindo.blogspot.com - Aku dan temanku Romli adalah mahasiswa di sebuah kampus swasta di Jakarta.kebanyakan mahasiswa di kampus kami adalah perempuan,karena kampus kami mengkhususkan di jurusan ilmu komunikasi.sudah menjadi pemandangan sehari-hari kami melihat gadis-gadis belia berpakaian sexy lalu lalang di kampus.Romli sendiri suka 'kegatelan' ngedeketin cewe2 sexy di kantin,lengkap dengan rayuan gombalnya.sedangkan aku suka membayangkan melakukan hal2 'panas' dgn gadis2 tsb.

kebetulan di kelas kami hanya kami berdua mahasiswa yg pria,sedangkan sisanya adalah wanita.ada 3 wanita yang cukup cantik dan sexy di kelas kami,sebut saja Putri,Indah,dan Agnes(masing2 berumur19-20 thn).Aku dan Romli cukup akrab dgn mereka bertiga,karena mereka agak berbeda dgn gadis2 yg biasa kami temui.mereka memberi tanggapan positif jika Romli bicara dan bercanda ttg hal2 nyerempet sex di depan mereka.kadang mereka hanya tertawa,atau kadang mereka senyum2 saja.

suatu ketika entah ada angin apa,Romli memiliki sebuah ide gila yaitu membuat film panas dengan 3 gadis tersebut di sebuah vila pada malam tahun baru.kontan aku kaget mendengarnya.mulanya aku pikir ia hanya bercanda,tp sepertinya dia serius.ini terbukti saat aku melihat Romli membujuk Putri,Indah,dan Agnes menginap di vilanya di puncak untuk merayakan tahun baru bersama.mulanya Romli gagal,tetapi dgn akal bulus dan rayuan2 gombalnya,akhirnya ketiga gadis itu mengiyakan.tidak lupa Romli mengajak aku.Belakangan penisku suka tegang melulu klo ketemu Putri,sudah begitu lamanya aku dan Putri sering saling tatap
mata tanpa sepatah katapun,jadi tentu saja tak kulewatkan kesempatan ini.gelora cintaku yang tak tertahankan pada Putri membuatku meminta pada Romli agar pada malam tahun baru nanti Putri eksklusif untukku saja,dan supaya adil akupun berjanji tidak akan coba2 menjamah Indah dan Agnes pada malam itu.

akhirnya hari yg dinanti-nantikan pun tiba.Aku dan Romli membawa handycam masing2.lalu kami pergi naik mobil menjemput Putri,Indah,dan Agnes.Putri seperti heran melihat kami bawa handycam."Itu handycam mau dipake buat apa?",tanya Putri."Kami hanya ingin mengabadikan pesta tahun baru kita nanti,tp Romli ngotot mau bawa handycam sendiri.",ujarku pada Putri.Aku sempet deg2an waktu ditanyain begitu sama Putri,tp untung saja ia percaya.kamipun pergi berlima ke sebuah vila di puncak.setelah tiba di sana,kami berlagak alim seperti biasanya agar gadis2 tsb tidak curiga.sengaja kami biarkan mereka tidur nyenyak malam
itu,sementara kami menyusun siasat sebelum tidur.

malam tahun baru pun tiba pd esok harinya.kamipun siap menggelar pesta setelah seharian jalan2 keluar dari vila.sambil menunggu tahun datang kami makan2,pertanda dimulainya operasi.aku dan Romli menyuguhi minuman (yg sebelumnya telah diberi obat perangsang) pada Putri,Indah,dan Agnes.merekapun minum tanpa curiga,malah mereka sempat minum bir segala.aku dan Romli
pun was-was menunggu efek obat bekerja.

sekitar 10 menit kemudian,efek obatpun mulai bekerja.ketiga gadis itu terlihat mulai berkeringat dan gelisah,bahkan mereka malah jd bersikap manja.akupun segera melancarkan aksi.kubawa Putri ke sebuah kamar di lantai atas.sejenak kupandangi kecantikan gadis itu,sikap manja gadis itu membuat nafsu birahiku meluap-luap.dgn segera aku meletakkan handycamku pd posisi yg pas dan tersembunyi.tanpa babibu lagi,kucium bibir Putri yang merah merona itu,sambil
tanganku menjamah-jamah bagian2 tubuhnya.Putri sempat berontak,tetapi krn aku terus memaksa iapun hanya bisa pasrah saja."Kamu ini apa-apaan sih??",tukas Putri padaku."Maafkan aku sayang,tapi ini adalah bukti cintaku padamu.",ujarku.Kupepetkan tubuh Putri ke dinding,lalu kulumat kembali bibirnya dengan agresif.

Aku mulai menciumi tubuh Putri,hmm wangi tubuhnya akan membuat pria manapun ingin menyetubuhinya.kuselipkan tanganku ke dalam kaos dan celana jeans Putri,seraya aku mulai menjamah payudara dan memeknya.Memek tsb sudah hangat dan basah krn pengaruh obat perangsang tadi,lalu kumasukkan jari telunjukku secara perlahan pd lubang vaginanya."Ah..ah..ah",itulah desahan Putri
saat aku menjamah memek dan payudaranya.Kemudian dengan perlahan aku mulai memeloroti pakaian Putri,mulai dari celana jeansnya,kaos,bh,dan celana dalam.Putri pun sudah telanjang bulat,terlihat payudaranya yang tidak terlalu besar tp cukup sexy untuk gadis sepertinya.
Kuletakkan dia di tempat tidur,lalu aku membuka celana dan mulai menggesekkan penisku pada memek Putri.Putri mulai mengerang-ngerang karena kegelian.Kupandangi memek Putri yg basah tsb dari dekat,lalu kujilat dengan lidahku."Ah..ah…enak,terus2?,u jar Putri."Kalo dedeku udah masuk memekmu dijamin jauh lebih enak deh.",kataku pada Putri.Putri hanya tersenyum manis mendengar perkataanku.

Tanpa menunggu lagi aku mulai mencoba menancapkan penisku pada memek Putri.sebagaimana gadis perawan,memek Putri masih sangat sempit sehingga aku sempat kesulitan.pelumas yg ada sudah mulai mengering,sehingga aku terpaksa melakukan foreplay kombinasi(ngelumat bibir Putri sambil tangan kiri ngejamah puting dadanya dan telunjuk tangan kanan berulang kali masuk lubang vaginanya).saat memeknya mulai basah,kembali kutancapkan penisku.masih sulit masuk juga,tp setelah sedikit memaksa akhirnya bisa juga,walaupun akibatnya memek Putri jadi lecet & membuat Putri sempat menangis kesakitan."Pelan2 donk mas,sakit nih.",tukas Putri sambil ngeringis kesakitan."Maaf sayang,tadi aku telalu semangat.Bentaran juga ilang kok sakitnya & brubah jadi nikmat,he he he.Siap ya??",jawabku.

Aku mulai menggenjot penisku secara cepat,membuat Putri mengerang-ngerang sakit dan nikmat sekaligus dengan hebatnya. Putri pun mulai berteriak kencang krn aksiku,melihat itu aku bereaksi dengan mencium bibirnya dan kamipun saling melumat bibir.lumayan untuk menghentikan teriakannya.genjotan penisku semakin cepat dan Putri mulai mendesah-desah dlm kenikmatan."Terus,terus mas,jgn berenti,enak bgt nih,ahhh…..",ujar Putri.tangan Putri mulai menjambak rambutku,membuatku makin bersemangat.akhirnya aku mencapai puncak dan tanpa terasa spermaku sudah menyembur ke dalam memek Putri,hangat2 rasanya
menurut Putri.Kami berdua saling berpelukan di ranjang dengan mesra,sambil kubisikkan rayuan2 gombal pd Putri."klo aku hamil nanti mas harus tanggung jawab yah??",tukas Putri."jangankan tanggung jawab,klo jd suami kamu sih aku juga mau kok.",ujarku pada Putri.
Putri hanya tersenyum manis mendengar perkataanku.krn penasaran dgn apa yg dilakukan Romli skrng,aku pun bangun meninggalkan Putri di kamar utk mengintip Romli.Aku melihat Agnes sudah berbaring lemas diranjang,sementara Indah sedang menghisap penis Romli dgn mulutnya.Lalu Romli menyodok memek Indah dgn penisnya,membuat Indah mengerang dgn hebatnya."Hebat juga Romli,udah ngegarap si Agnes masih kuat aja ngegarap si Indah.",ujarku dalam hati.melihat itu live show tsb membuatku kembali bergairah,lalu dgn segera aku kembali pada Putri."Dimana Indah ama Agnes,mas??",tanya Putri padaku."Oo mereka lagi ngelayanin Romli tuh.",tukasku.
spontan Putri terlihat takut,berpikir bahwa Romli akan menggarapnya nanti."Tenang aja sayang,malam ini kamu hanya milikku seorang.

Ga akan kubiarkan Romli menyentuhmu.",kataku pada Putri.Kusuruh Putri bangun dr ranjang dan berdiri,lalu kupeluk dia dari belakang,seraya penisku menjelajah memeknya kembali.Kugenjot penisku sehingga pantat Putri bergerak naik turun,sementara tangan kiriku menopang tubuhnya dan tangan kananku mengelus rambut panjangnya yang hitam lembut.Tak lupa aku mencium dan mencupang leher dan tubuhnya.Putri sudah berkeringat dan menggeliat seperti cacing kepanasan saja.Spermaku kembali tersembur ke dalam memeknya.Kami lakukan semua itu selama kurang lebih 1 jam,lalu kamipun terbaring di ranjang krn kelelahan.Sejenak kami saling tatap mata tanpa sepatah katapun,lalu kami pun saling tersenyum.Sebelum tidur,tdk lupa aku mematikan handycam yg
dr td merekam adegan seksku dgn Putri.Tak terasa malam tahun baru berlalu dengan cepat sekali.
Esok paginya,aku bangun lebih dulu sementara Putri masih tertidur.Kubangunkan dia dgn maksud mengajaknya mandi.Kunyalakan handycam di kamar mandi,lalu kugendong Putri menuju shower.Kami pun mandi sambil berpelukan,lalu kami saling menyabuni satu sama lain dengan mesranya.Setelah kami berpakaian rapi,kami ke lantai bawah untuk ketemu dengan Romli,Indah,dan Agnes."Ciee,ada pengantin baru nih di kampus kita.",ledek Romli padaku.Aku hanya tersipu malu mendengarnya.Lalu aku dan Romli menjelaskan semuanya pada ketiga gadis tersebut.Mereka sempat marah dan takut jika videonya beredar ke masyarakat.Tetapi kami berhasil meyakinkan mereka agar tidak khawatir.Setelah berbenah,kamipun kembali ke Jakarta dan ke rumah masing2.

Setelah kejadian itu,aku dan Putri menjadi semakin dekat.Bahkan anak2 di kampus bilang kami berdua seperti perangko saja.Aku selalu memangku Putri saat jam istirahat.Tidak jarang kami bermesraan di kampus.Kami resmi pacaran sejak saat itu,bahkan kami berencana akan menikah tahun depan jika memungkinkan.Aku jadi sering berkunjung ke tempat kos Putri dan menginap disana,yah kalian tahu deh apa yg kami lakukan disana beduaan,he he.Namun nasib berkata lain untuk Romli,Indah,dan Agnes.Video cabul mereka tak sengaja tersebar ke masyarakat,sehingga mereka harus berhenti kuliah dan berpisah ke luar kota untuk menghindari polisi dan sorotan publik.Untung saja aku membuat video cabulku dgn handycam sendiri,sehingga sampai skrng video tersebut masih aman dari sentuhan publik.Oh Putri,bibir dan memekmu kutunggu.

Petualangan Seksku Dengan Putri

By Unknown → Sabtu, 24 Januari 2015

Petualangan Mahasiswa Ngentot Sama Ibu-ibu
portalseksindo.blogspot.com - Ketika aku Kuliah Kerja Nyata (KKN) di sebuah desa terpencil di Jawa timur aku mendapatkan sebuah pengalaman yang mengesankan, ketika itu aku mendiami rumah kepala desa dengan teman-teman wanita lainnya sedangkan yang laki-laki menginap di rumah sekdes.

Dalam dua bulan, kami para mahasiswa ditugaskan kampus untuk membantu masyarakat pedesaan sesuai dengan kemampuan kami masing-masing, sesuai dengan disiplin ilmu masing-masing yang tentunya sesuai dengan jurusan yang diambil masing-masing mahasiswa. Selain itu juga dibebankan tugas-tugas yang bersifat umum lainnya, seperti membuat petunjuk jalan, membangun tugu pembatas desa, dan lain-lainnya yang sekiranya dapat dibantu meskipun tidak sesuai dengan jurusan kami. Aku yang mengambil jurusan administrasi tentunya lebih banyak membantu masalah pembukuan desa dengan mengadakan pelatihan singkat tentang masalah pengorganisasian yang baik dan efisien.

Aku yang lebih banyak bertugas di kantor kepala desa tentunya satu ruangan dengan bapak kepala desa yang kira-kira masih berumur 30 tahun, bersama seorang teman yang sama jurusannya dan satu orang dari jurusan akuntansi, tentunya sering bertatap muka dengan kades muda yang wajahnya lumayan juga. Sehari-harinya tidak jarang aku bertugas sendiri dan hanya ditemani oleh kades muda itu karena yang lainnya sedang ada tugas lain. Kuperhatikan sesekali Pak kades melirik dan mengamatiku dari ujung rambut sampai ujung kakiku, dan kelihatannya dia menaruh perhatian yang lebih terhadapku. Yah, mungkin paras dan bentuk tubuhku tergolong enak dilihat dan cukup menggiurkan termasuk bagi teman-teman mahasiswa lainnya yang hampir semua laki-lakinya mencoba mendekatiku.

Suatu hari, ketika aku hanya berdua dengan Pak Mahmud (nama kades muda itu), dan Pak Mahmud melakukan pendekatan dengan gayanya yang agak sungkan-sungkan.
"Adik Susi kurang berapa semester lagi lulusnya?" Pak Mahmud mulai berbasa-basi sambil matanya agak malu-malu melirik buah dadaku yang kata teman-teman cowokku tergolong montok.
"Yah, kalau lancar sih dua semester lagi sih Pak," jawabku sambil menatap polos Pak Mahmud, sehingga dia salah tingkah.
"Aduh, panas juga ya Pak udaranya," sambil aku membuka duah buah kancing bajuku hingga terlihat belahan dadaku yang tentunya semakin membuatnya salah tingkah.
Aku ngobrol dengan asyiknya dengan Pak Mahmud, sambil aku bersikap agak manja dan sedikit memancing-mancing dengan bahasa tubuh yang sedikit erotik, sehingga yang semula Pak Mahmud malu-malu sekarang dia mulai berani bicara dan tidak sungkan-sungkan lagi memandangi tubuhku terutama buah dadaku, bahkan dia mulai berani menyentuh tanganku, bahkan dia berani membelai-belai lembut lenganku.
"Wah, sudah sore nih, ayo kita pulang," ajak Pak Mahmud, dan akupun bergegas berkemas, kemudian pulang bersama Pak kades muda dengan dibonceng motornya.

Sesampainya di rumah Pak kades, aku tidak menemukan teman-temanku, mungkin mereka masih menyelesaikan program pembuatan nama tiap-tiap dusun dan membuat tugu pembatas desa. Karena aku merasakan udara yang panas, aku langsung membuka baju dan membiarkan diriku telanjang dada dengan hanya mengenakan bra yang transparan dan mengenakan celana pendek, lalu aku menuju meja makan untuk mengambil air minum dan aku sadar ada sepasang mata yang terus mengamati setiap lekuk tubuhku.

Petualangan Mahasiswa Ngentot Sama Ibu-ibu
Setelah aku meneguk air, aku langsung membalikkan badan dan menemukan Pak Mahmud berdiri kaku dengan mata terus melototi tubuhku, "Eeh Bapak, nggak ada orang lain kan Pak," aku pura-pura terkejut dengan nada genit, dan perlahan-lahan Pak Mahmud menganggukkan kepalanya. Aku dengan santai berlenggak-lenggok melintas di depannya lalu aku masuk ke kamarku dengan membiarkan pintu tetap terbuka. Tak lama aku duduk di tepian ranjang, tiba-tiba sepasang tangan mendekapku dari belakang dan langsung membalikkan tubuhku dengan kasar, lalu mendorong tubuhku sampai aku tertidur. Aku melihat wajah Pak Mahmud penuh dengan gejolak nafsu yang tidak mampu ia kendalikan lagi dengan tubuh yang sudah telanjang.

"Sabar dong Pak," aku berusaha menenangkannya tapi sepertinya dia tidak mempedulikan lagi, langsung ia berusaha melepas celanaku sekalian dengan celana dalamku juga, lalu dengan kasar dan tergesa-gesa dia berusaha memasukkan kejantanannya yang tidak terlalu besar itu ke dalam liang senggamaku. Wah, orang ini benar-benar primitif sekali mainnya. Setelah batang kejantanan itu masuk, dia mulai memompa pinggulnya, dengan refleks kakiku kunaikkan ke atas pinggulnya lalu kutarik kepala Pak Mahmud, manusia primitif ini ke belahan buah dadaku. Setelah itu aku mulai menggoyang pinggulku biar permainan ini agak seru. Pak kades muda ini mempunyai pertahanan cukup kuat sehingga aku kebobolan dua kali baru batang kejantanannya menyemburkan spermanya. Setelah itu dia langsung menyambar sarungnya, "Wah, Bapak jantan juga, sampai bobol dua kali aku, tapi sayang permainannya monoton, kapan-kapan yang variatif dong Pak," komentarku dengan nada genit.

Keesokan harinya aku membantu mengecat tulisan nama-nama dusun lalu memasangnya di tepian jalan makadam. Pada waktu pemasangan nama dusun itu aku tergelincir dan jatuh ke dalam kubangan air yang penuh dengan lumpur.
"Waduh kotor semua nih badanku, iih menjijikkan, tolongin dong jangan ketawa aja," aku mengeluh dengan perasaan yang mendongkol melihat yang lainnya menertawaiku saat melihat seluruh tubuhku penuh dengan lumpur sawah yang menjijikkan.
"Ayo! anterin aku pulang, aku mau ganti pakaian nih. Ayo siapa yang nganterin aku," mereka tetap cekikikan tidak seperti biasanya, kalau aku sudah bilang minta diantar para laki-laki langsung mengajukan dirinya untuk mengantarkanku, bahkan meski aku nganggur pun mereka selalu berlomba mengajakku menemani atau sekedar mengajak berjalan-jalan, tapi kali ini mereka terlalu sibuk menertawakanku, kesal jadinya.
"Ayo Sus, aku aja yang nganter kamu," akhirnya aku diantar Toni kembali rumah Pak kades.

Setelah sampai tidak menyangka kalau aku sudah ditunggu temanku, Vira. Kami langsung ngobrol setelah aku membersihkan badan dan berganti pakaian. Aku menceritakan kejadian bersama Pak kades belum lama ini dan kami cekikikan.
"Orang desa tetap orang desa, dalam main seks pun kampungan banget gitu, kapan mau maju ha.. ha.. ha.." Vira cekikikan setelah mendengar ceritaku.
"Ngomong-ngomong kangen juga aku sama dompetmu Vir," aku mulai mendekati Vira sambil membelai rambut panjangnya.
"Aku juga sudah kangen berat lagi sama ini," Vira menjawab sambil membelai-belai buah dadaku, yang membuatku blingsatan.
Tanpa kusadari Vira telah membuka kancing atas dasterku yang cukup membuat Vira leluasa mengobok-ngobok payudaraku, karena permainan mulai semakin memanas maka kugandeng Vira lalu kuajak dia masuk ke dalam kamarku.

Di dalam kamar, langsung kulumat bibir seksi Vira dan dengan cekatan tanganku menyusup ke balik switer lalu kuremas-remas kedua payudaranya dan dengan mudahnya aku mempermainkan puting susunya karena dia sudah tidak mengenakan bra lagi. Vira pun tidak mau kalah, dia langsung menanggalkan daster yang sudah terbuka beberapa kancing atasnya hingga begitu tanganku melepaskan payudara Vira dengan begitu saja daster itu meluncur lancar ke bawah menjadikan aku hanya mengenakan bra dan celana dalam kecilku yang membuat Vira leluasa menjelajahi tubuhku yang terangsang berat ini. Vira langsung mendaratkan serangan bibir seksinya ke leher, tepat di bawah telingaku yang membuatku begitu terangsang, lalu dia mendorongku hingga aku jatuh di atas tempat tidurku, setelah dia meloloskan semua pakaian yang melekat pada tubuhnya dia langsung naik ke atas tubuhku den memulai kerjanya yang belum terselesaikan.

Karena kancing bra-ku berada di depan yang memberikan kemudahan bagi Vira untuk meloloskan bra-ku dan dengan mesranya dia mencium payudaraku sebelah kiri, kemudian dia mengulum puting susuku hingga semakin mengeras lalu dia pindah ke payudara sebelah kanan, dijilatinya dari pangkal sampai putingnya menjadikan payudaraku yang kencang ini semakin kencang dan mengeras putingnya lalu dia meremas bagian atas payudara kiriku setelah itu dia mengarahkan liang kewanitaannya tepat di atas payudaraku lalu dia mencoba memasukkan puting dan segumpal kecil dari bagian atas payudaraku, setelah puting susuku berada tepat diantara bibir kemaluannya dan kurasakan kehangatan liang kewanitaannya yang mulai basah, dia mulai menggoyang-goyangkan pinggulnya sambil mulutnya tidak henti-hentinya mendesah, tanganku meraih dua belah susunya dan aku mulai meremas-remasnya.

Sekitar satu menit lamanya Vira menggencet payudaraku dengan liang kewanitaannya, dia menjatuhkan tubuhnya di sampingku dan membisikkan, "Kita main 69 yuk," lalu aku mengangguk dan aku bergegas mengambil posisi di atasnya dan ini merupakan permainan kesukaanku. Begitu wajahku menghadap ke liang kewanitaannya, aku langsung menggesek-gesekkan hidungku di antara bibir kemaluannya dan aku menghirup dalam-dalam aroma sedap dari dalam liang surganya. Dia pun menjalankan tugasnya dengan baik, kurasakan lidahnya lincah keluar masuk di dalam liang kewanitaanku hingga membuatku mendesah diselingi geraman.

Aku pun memainkan lidahku ke dalam liang kewanitaannya lalu mempermainkan klitorisnya. Kuselingi beberapa kali memasukkan jari telunjukku dan mengocoknya beberapa kali. Setelah aku merasa cukup, kumasukkan kedua jariku dan kukocok dengan cepat hingga membuat dia mengeram dan sedikit menjerit dan tak lama kemudian sepertinya dia mencapai klimaks hingga cairan hangat membasahi liang senggamanya. Langsung kusedot dan kujilati cairan itu hingga sampai bersih tak tersisa. Vira sudah mencapai klimaks sedangkan aku belum apa-apa, setelah cairan itu berada di mulutku, aku langsung menghadap ke wajahnya lalu kulumat bibirnya dan aku berbagi cairan birahi itu dengannya.

Setelah itu aku meminta dia merubah posisinya untuk berada di sisi ranjang depanku dan mempertemukan liang kewanitaanku dengan liang sorganya dengan saling mengangkangkan kaki masing-masing, kami saling menggoyang pantat kami masing-masing, sungguh kurasakan kenikmatannya. Desahan kami pun saling bertautan dan berkolaborasi dengan suara derit ranjang tua ini, hingga pada akhirnya aku pun mencapai klimaks lalu Vira pun menyusul mencapai klimaks yang kedua kalinya.

Setelah istirahat beberapa saat Vira mengenakan kembali pakaiannya, lalu Vira duduk di ruang tamu dan tak lama kemudian Pak Mahmud pulang dari kantor desa.
"Wah ada tamu rupanya, cari siapa Dik?" tanya Pak Mahmud pada Vira.
"Anu.. saya ada perlu dengan Susi, dan sudah ketemu kok Pak, ini juga mau kembali ke desa tempat saya KKN. Bapak.. Pak Mahmud ya?" Vira membalas bertanya dengan genit, lalu Vira dengan berani mendekati Pak Mahmud, sebelum sempat Vira berbuat sesuatu aku datang memberi salam hangat lalu Vira pun pamit pulang. Sebelum pulang, Vira masih sempat-sempatnya mencubit pantat Pak Mahmud, Pak Mahmud pun jadi salah tingkah dibuatnya.

Beberapa menit setelah Vira pergi, aku mulai beraksi menggoda Pak Mahmud lagi.
"Bapak kalau main jangan monoton dong," aku mulai mendekati dan manggandengnya masuk ke kamar. Setelah sampai di dalam kamar, aku langsung jongkok dan mulai membuka celana Pak Mahmud kemudian mengeluarkan kejantanannya.
"Pakai pemanasan dulu dong Pak," lalu aku mulai menjilati ujung kepala kemaluan di depanku hingga sedikit demi sedikit kejantanan Pak Mahmud mulai mengeras, desisan dan geraman pun mulai keluar dari mulut Pak Mahmud. Aku mulai memasukkan kepala kemaluan Pak Mahmud lalu sedikit demi sedikit kulalap seluruhnya dan aku mulai mangeluar-masukkan batangan itu, geraman dan desahan pun semakin membahana.

Belum sampai klimaks aku mendengar deru motor yang memasuki halaman rumah. Pak Mahmud pun bergegas merenggut batang kejantanannya yang sudah tegang kemudian dia masukkan kembali ke dalam celananya lalu bergegas keluar dari kamarku, dan aku sendiri pura-pura tidur. Setelah kejadian itu sikap Pak Mahmud semakin berani terhadapku apalagi kalau aku sedang sendirian hingga aku merasa tidak enak dengan teman-teman, apalagi terhadap Bu Sarina istri Pak Mahmud, yang sebenarnya aku menaruh rasa simpati dan kadang-kadang aku kepingin membelai buah dada yang montok, hingga pada suatu hari saat di pendopo kelurahan diadakan penyuntikan imunisasi dan penimbangan balita. Disela-sela kesibukanku Bu kades memintaku membantu pekerjaannya, setelah selesai Bu kades memintaku untuk mengantarkannya pulang ke rumahnya.

Setelah sampai aku langsung diajaknya ke dalam kamarnya, lalu aku duduk di tepian ranjang.
"Dik Susi, kemaren secara tidak sengaja saya mendapati adik berbuat sesuatu di kamar adik dengan teman adik," kata Bu Sarina. Waduh sepertinya aku tertangkap basah.
"Jangan takut, aku nggak pa-pa kok, sebenarnya kemaren ingin rasanya aku ikut bergabung, tapi karena aku ditunggu ibu-ibu lainnya jadi aku tidak sempat menonton sampai akhir," Bu Sarina mulai membuka pakaiannya lalu kembennya digulung hingga terlepas, sekarang ia hanya mengenakan bra dan jarik setelah itu ia membisikkan, "Aku juga mau melakukannya dengan sampean," aku bingung untuk beberapa saat, Bu Sarina menyadari kalau aku masih bingung lantas dia memulainya dengan mencium bibirku, tentu saja kubalas dengan mesra, kucoba mengulum bibirnya dan mempermainkan lidahnya.

Setelah beberapa saat lamanya, aku mulai melancarkan serangan di sekitar leher, perlahan turun hingga sampai pada pangkal payudaranya yang montok itu, untuk memperlancar seranganku kulepaskan bra-nya dan terlihat olehku sebuah pemandangan yang indah, payudara Bu Sarina terlihat mempesona. Tanpa buang-buang waktu lagi kulumat susu kirinya dengan nafsu yang membara, sedangkan susu sebelah kanannya kuremas-remas, hal ini membuat mulut Bu Sarina tak henti-hentinya mendesah dan tangannya berusaha menekan kepalaku ke payudaranya, "Sus, esst.. nyaman Sus," Bu Sarina ngomel-ngomel keenakan. Aku menuntun Bu Sarina untuk rebahan ke ranjang, setelah itu aku kembali bekerja membuat dia menggeliat dan mendesah kenikmatan. Beberapa saat kemudian aku mulai menjalar turun ke perut, lalu aku mulai melepas jariknya, ternyata dia tidak mengenakan celana dalam maka terlihatlah gundukan kecil penuh rambut.

Aku pun mulai menyibak rambut yang lebat itu sampai terlihat jelas belahan liang kewanitaannya yang berwarna kemerah-merahan yang membuatku tak mampu lagi menahan untuk menjulurkan lidahku untuk merasakan aroma dan rasa yang erotik dari kemaluan seorang istri kepala desa. Begitu lidahku menyentuh liang kewanitaannya, Bu Sarina menggelinjang sambil mendesis seperti menahan kenikmatan yang tiada tara, "Ini nikmatnya melebihi kenikmatan main dengan bapak, uukh.. aasst!" Bu Sarina ngomel sambil menggeliat-geliat keenakan.

Saat tengah enak-enaknya kami berusaha mencapai puncak kenikmatan, aku melihat seorang gadis berkerudung hitam mengintip, dengan cepat aku memalingkan wajah dan menghampirinya, "Heh ngapain kamu!" kutegur dia dan ternyata dia si Halimah gadis desa yang hitam manis.
"Maaf Mbak, saya menggangu ya.." kata Halimah dengan nada ketakutan.
"Iya dong, dan jangan coba-coba ngomong sama yang lain mengenai apa yang kamu lihat ya, awas kamu!" ancamku pada Halimah.
"Ooh, nggak Mbak.. sungguh Mbak," Halimah lalu pergi meninggalkanku, dengan merundukkan kepalanya agak malu-malu.

Aku pun kembali menghampiri Bu Sarina, dengan serta merta Bu Sarida membelaiku, menggerayangi tubuhku lalu dia berusaha melepaskan baju dan celanaku sampai pada akhirnya poloslah aku sehingga Bu kades itu leluasa menjelajahi bukit kembarku dengan lidah dan jemari lentiknya. "Bu, jilati dong kelaminku, eest..!" Bu Sarina pun mulai membelai-belai belahan kemaluanku dan kurasakan lidahnya lembut menyentuh bibir kewanitaanku, rasanya nikmat sekali, selang beberapa lama dia memasukkan dua jarinya sekaligus dan perlahan-lahan mengeluar-masukkannya, nafasku semakin tidak teratur dengan sedikit-sedikit menjerit lirih, aku merasakan terpaan kenikmatan yang mengasyikkan itu. Kulihat lagi Halimah masih mengintip sambil kulihat tak henti-heentinya tangannya menggerayangi selangkangannya sendiri. "Hai kamu ingin ngerasain juga ya? Sini, ayo cepat sini, nggak pa-pa kok."

Halimah dengan malu-malu mulai mendekati kami. "Ayo buka sekalian pakaianmu." Dia mulai melepas pakaiannya setelah menutup pintu kamar, dan ternyata tubuhnya yang hitam manis itu sungguh seksi sekali dan kelihatan sangat segar hingga aku ngiler sendiri. Kugandeng tangannya lalu kutarik mendekat, kemudian kulingkarkan tangan kiriku ke pinggangnya, dan seketika kusosor susu yang montok itu, kukeyot ujungnya dan kuremas mesra diantara kedua daging yang montok itu. Kami waktu itu bekerja keras untuk mencapai puncak kenikmatan sampai beberapa kali karena teman-temanku baru balik petang setelah maghrib.

Sampai sekarang hubunganku dengan Bu Sarina dan Halimah terjalin bagus, hampir tiap akhir pekan Halimah dan Bu Sarina mengunjungiku di tempat kost-ku karena kebetulan Bu Sarina sering mengirim kerajinan kain bordir ke kota. Hubunganku dengan Pak Mahmud pun juga masih kulakukan tapi tidak sesering dengan Bu Sarina.

Petualangan Mahasiswa Ngentot Sama Ibu-ibu

By Unknown →
Losmen Saksi Bisu Gairahku
portalseksindo.blogspot.com - Di hari pertamaku masuk kuliah di salah satu perguruan tinggi di Semarang, tidak ada yang aku kenal satupun, sehingga aku seperti orang nyasar, bingung celingak-celinguk kesana kemari.
Sewaktu sedang bingung-bingungnya tiba-tiba ada cewek yang menegurku, "Eh, tau kelas MI1-3 nggak?".
Eeiittss..., ternyata aku juga cari kelas itu..., lalu aku jawab, "mm..., saya juga tidak tahu, mendingan cari sama-sama yuk".
"Saya Gita" dia sebut namanya duluan.
"Aku Iwan", aku sebut namaku juga, di situlah aku mulai punya teman bernama Gita. Cewek manis ini mempunyai kulit kuning langsat, nyaris tanpa cacat, tinggi badan kira-kira 166 cm, dengan berat 49 Kg. Tapi yang bikin aku tidak bosan melihatnya adalah dadanya yang menantang, cukup besar untuk ukurannya, tapi tidak terlalu besar sekali. Begitu pula dengan pantatnya, aku paling suka jika dia memakai jeans ketat, dengan kaos oblong warna putih. Kadang jika ia bercanda, ngomongnya nyerempet-nyerempet porno terus, walaupun sekali-sekali saja.

Tiga bulan sudah lamanya aku dekat dengannya, jalan kemanapun selalu bersama, walaupun dia belum resmi jadi pacarku, tetapi aku dan dia selalu berdua kemanapun. Sampai akhirnya aku dan dia pergi jalan-jalan ke daerah Dieng, salah satu daerah dingin di Jawa Tengah, niatnya cuma jalan-jalan saja, tidak menginap. Entah kenapa hari ini dia mengajakku bercanda yang berbau porno terus, dari pagi hingga siang hari.
Sampai akhirnya ia bertanya begini, "Wan, kalau kamu punya istri suka yang buah dadanya besar atau sedeng-sedeng saja?".
Lalu aku jawab "Mm..., yang kayak apa ya?, kayaknya aku suka yang seperti punya kamu itu lho".
"Lho emang kamu pernah liat punyaku?", tanya dia.
Aku bilang "Gimana mau liat, orang kamunya ajah nggak pernah kasih kesempatan..., heheheh".
Dia tanya lagi sambil bercanda, "Kalo aku kasih kesempatan gimana?".
Aku jawab, "Yaa..., nggak aku sia-sia'in".
"Emang berani?", tantang Gita.
"Siapa takut...", jawabku tidak mau kalah.
"Kalo gitu bukti'in!", kata Gita.
"Oke..., kita cari losmen sekarang..., gimana?", tantangku gantian.
"Siapa takut...", jawabnya tidak mau kalah juga.

Jujur saja aku masih berfikir bahwa ini cuma bercanda saja, sampai tiba-tiba di depan sebuah losmen, dia berkata, "Wan, disini ajah..., kayaknya losmennya bagus tuh".
"Deg!!", jantungku terasa berhenti. Dengan ragu-ragu kuarahkan mobilku masuk ke halaman losmen tersebut. Aku masih diam dan setengah tidak percaya.
Terus dia berkata, "Kamu angkat tas-tas kita, aku yang check in..., OK?".
Seperti babu kepada majikannya, aku ikuti kata-katanya dan mengikuti langkahnya masuk ke losmen.

Masuk ke kamar losmen langsung kita tutup dan kunci pintunya, aku masih terdiam terus duduk di atas kasur sampai dia berkata, "OK, sekarang aku kasih kamu kesempatan liat dadaku, tapi jangan macem-macem yaa?".
Tiba-tiba saja Gita menarik kaosnya ke atas, dan langsung melemparkan ke atas tempat tidur. Lalu dia terdiam sambil menatapku yang juga terdiam, walaupun sebenarnya aku sedang terpana. Beberapa saat dia arahkan tangan kanannya ke pundak kirinya, digesernya tali BH-nya jatuh ke lengan. lalu gantian tangan kirinya ke pundak kanan melakukan hal yang sama.

Lalu tangan kanannya diarahkan ke punggung, tetapi tangan kirinya masih memegangi BH bagian depannya. Oh God..., Nafasku terasa berhenti di tenggorokanku..., BH-nya telah terlepas, tetapi masih ditahan bagian depannya oleh tangan kirinya. Gita terus memandangiku. Gita menggigit bibir bagian bawahnya.
Tiba-tiba ia berkata, "Aku nggak akan lepas ini, jika kamu nggak buka pakaianmu semuanya"
Aku ragu-ragu..., tetapi nafasku sudah tidak bisa diatur lagi..., aku buka kaosku..., aku buka jeansku..., lalu aku berhenti, tinggal celana dalam yang aku kenakan..., gantian aku yang menantang, "Aku nggak akan buka ini, jika kamu nggak lepas itu sekarang"
Gita diam sejenak lalu dia turunkan perlahan tangan kirinya dan akhirnya terlihat jelas buah dadanya yang kuning langsat dan benar-benar menantang. Belum sempat aku rampung menikmati pemandangan ini, tiba-tiba ia melompat ke arahku dan mendorongku telentang di kasur, dengan cepat dia mencium bibirku. Aku yang masih kaget akan serangan mendadak ini tidak menyia-nyiakannya, kami saling berciuman, saling melumat bibir, "uugghh..., oohh...", hanya kata itu yang Gita keluarkan.

Tiba-tiba saja di berdiri, dalam 5 detik celana jeansnya sudah terlepas. Kami sama-sama hanya memakai celana dalam saja, saling pandang tetapi itu hanya berlangsung 6 detik, dengan cepat ia menarik celana dalamku kebawah dan melepasnya. Gita tersenyum dan sedikit tertawa, aku tak tahu dia senang melihat punyaku atau menertawai punyaku?
Akupun tidak mau kalah, kutarik perlahan-lahan celana dalamnya sedikit demi sedikit,ternyata Gita sudah tidak sabar lalu dia tarik sendiri celana dalamnya dan melemparnya ke belakang, belum sempat celana dalamnya menyentuh lantai bibirnya sudah melumat bibirku, "oohh...", kami sekarang benar-benar telanjang bulat. Gita mulai mencium leherku tapi itu tidak lama karena aku keburu membalik badanku. Sekarang gantian ia yang telentang di kasur. Pemandangan yang indah sekali tetapi kali ini aku tidak mau lama-lama memandang, langsung aku berada diatasnya, kedua tangannya sudah kupegang dan tahan di samping kiri-kanan kepalanya. Aku ciumi lehernya, bibir, leher lagi. "Hhmmhh..., uugghh..., sstt", cuma itu yang dia katakan.

Ciumanku sudah 'bosan' di leher. Aku mulai turun. Melihat gerakanku itu, tiba-tiba dia mengangkat dadanya. Kesempatan ini tidak kusia-siakan. Aku langsung ciumi buah dadanya sebelah kiri, sedang tangan kananku mengelus-elus buah dadanya yang kanan. Kali ini tangan kirinya sudah memegang kepalaku. "sstt..., hh..., sstt...", mulutnya berdesis seperti ular.
Dia menarik rambutku dan kepalaku dan mengarahkan kepalaku ke buah dadanya sebelah kanan. Dengan sekuat tenaga ia tekan kepalaku ke dadanya. "Gigit..., gigit..., Wan..., sst". Lalu dengan gigiku aku mulai mengigit-gigit sedikit puting susunya, kiri-kanan, kiri-kanan selalu bergantian dan adil. Sementara dari mulut Gita terus keluar kata, "Teruuss..., teruuss..., yang keras..., aahh..., gigit Wan..., gghh..., sstt".
Sementara punyaku sudah tegang keras. Kepalaku mulai turun lagi tetapi tiba-tiba ia berteriak kecil, "Wan..., Iwan..., uugghh..., sekarang ajjaah..., masuk'iin..., nggak usah pake mulut lagi..., masukin sekaraanng..., plizz...".

Aku langsung di dorongnya. Sekarang ganti posisi, aku yang telentang dan Gita berada di atasku. Selangkangannya mencari-cari posisi, walau aku tahu pasti yang dia cari adalah punyaku. Begitu posisinya tepat, Gita mendorongnya dengan kuat. "uugghh...", sedang aku sedikit berteriak, "aahh". Punyaku sudah terbenam di dalam selangkangannya.
Gita terus menggerak-gerakan pinggulnya ke atas, ke bawah, kiri-kanan, naik-turun segala arah gerakan ia lakukan. Matanya terpejam, bibirnya digigit seperti menahan sesuatu, sering dari mulutnya keluar kata-kata, "oohh..., sshhtt..., uugghh..., sshhss..., sshhiitt..., aacchh..., oouuhh...", nafasnya tidak lagi teratur.
Kedua tangannya meremas-remas buah dadanya sendiri, kepalanya sering menengadah ke atas, "uugghh..., oohh..., sshhsstt". Sedangkan aku hanya sanggup meremas sprei di kiri dan kananku dengan kedua tanganku. Gigi atas dan gigi bawahku sudah saling menekan, tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutku hanya suara nafasku saja yang terdengar.
Kali ini aku yang mengambil alih "kekuasannya" gantian kudorong tapi dia malah tengkurap, melihat pantatnya yang putih mulus. Aku jadi tambah bernafsu untuk segera memasukkan punyaku ke punyanya.
Aku angkat pinggulnya dan Gitapun mengangkat badannya dengan kedua tangan dan kakinya. Sekarang posisinya seperti mau merangkak. Langsung tanpa tunggu waktu lagi aku mencoba memasukan "adikku" ke lubang vaginanya.
"Mmaasuukkiinn..., ceeppeett...", Gita memohon kepadaku tapi belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya punyaku sudah masuk ke vaginanya. "oohh...", dari mulutku keluar kata tersebut. Dengan semangat aku mulai mendorong ke depan, menarik, mendorong, menarik terus menerus seiring dengan gerakanku. Gerakannyapun berlawanan dengan gerakanku, setiap aku mendorong ke depan ia mendorong pantatnya ke arahku diiringi desahan dan leguhan dari mulutnya. "uugghh..., aahh..., Sshshhss..., oohh..., uugghh...".
Tiba-tiba ia berteriak, "Iwaann..., sshh..., oohh", aku merasakan sesuatu keluar dari dalam lubang kemaluannya tapi, "oohh..., oohh..., aacchh..., Gitt..., aakku...". Akupun merasakan kenikmatan yang tiada bandingannya seiring dengan keluarnya cairan dari dalam punyaku.
"oohh..., uugghh", banyak sekali cairanku keluar.
"Terus Wan..., keluarin semuanya...", pinta Gita.

Tubuhku terasa sudah tidak kuat lagi berdiri. Aku langsung telentang di kasur, sedangkan Gita langsung memelukku dan menaruh kepalanya di dadaku.
"Gita sayang sama Iwan", hanya itu yang keluar dari mulutnya, lalu matanya terpejam sambil terus memelukku.

Losmen Saksi Bisu Gairahku

By Unknown → Jumat, 23 Januari 2015
Pengalaman Seru Ngeseks Saat KKN
portalseksindo.blogspot.com - Nama gw Bima bukan nama asli, Gw punya pengalaman cukup unik nih. Ceritanye gini, gw ma temen temen KKN disebuah desa di Bandung. 1 kelompok ada 12 orang 6 cewek dan 6 cowok. Yang cowok namanya yudik, eko, dodik, weda, budi, dan gw sendiri, yang cewek ada Ningsih, Wulan, Fanya, Ari, amanda, dan Iin. Ada seorang temen cewek yang sudah lama gw taksir nih di Kelompok gw namanya Iin (nama samaran), kira-kira tinggi 167 cm dan berat berkisar 47 kg, ukuran bra gw gak tau tapi kira-kira 34B gw sendiri kurang tau dan ga mau tahu yang jelasni cewek cakep banget, gw dan doi cukup dekat, soalnya kita udah kenal sejak jadi mahasiswa baru, tapi gw belom berani nembak soalnya masih ingin bebas nge-jomblo. Kami sudah terbiasa jalan bareng, party bareng, minum bareng cumin sex aja yang belum pernah barengan sama semua teman ini


Kembali ke Cerita Sex kisah dewasa tentang kegiatan mahasiswa masa kini ini, kami berangkat dari Kampus ke tempat KKN menggunakan bis. Perjalanan ke TKP memakan waktu kurang lebih enam jam. Setibanya di lokasi kami pun di sambut ramah oleh warga desa setempat. Kami perkenalkan kepada warga desa mengenai maksud dan tujuan kedatangan kami ke sini. Setelah semua kegiatan perkenalan selesai kami pun menuju rumah Pak kepala Desa untuk istirahat. Menjelang petang kami disuguhi hidangan yang begitu enak, ada ayam goreng ada ikan bakar dan lalapan dan tidak ketinggalan sambelnya yang manyossss. Kami pun makan dengan lahapnya. Setelah makan kita diantar ke Mess dekat dengan rumah Pak Kades, yang memang disediakan untuk para tamu atau kerabat yang ingin menginap.

Di sana kita berkumpul dan melakukan pembagain tempat tidur dan agenda yang akan kita lakukan besaok pagi, setelah selesai karena udah jam 10 malem dan badan pada capek maka siap-siaplah kita menuju kamar tidur masing-masing, sebelum tidur kita para cowok ngobrol ngalor ngidul gak ada ujungnya, sampai jam 12 malem akhirnya pada ngantuk dan tidur, kecuali gw masih belom bisa tidur. Tempat Tidur cewek dan cowo cuma dipisahin sama sekat bambu gedeg(anyaman dari bambu). Pas mau tidur tiba-tiba HP gw berbunya ada SMS masuk, dengan males ane ambil hape di samping dan ane buka ternyata dari Iin "tolong temenin pipis dong kebelet banget nih, temen gue dah pada tidur semua, gue takut sendirian, gue tunggu di pintu belakang". Gw pun bangun dan menuju pintu belakang. Emang Sumur di rumah pak kades tuh jauh, jauhnya sekitar 20 meter dari Mess. Yah dengan sedikit ngantuk gw keluar kamar.

B: Gw
I: Iin

I: "Bim...!!! kok lama amat, dah kebelet nih gewe takut pipis sendirian, buruan gih"
Sambil berdiri agak membungkuk merapatkan pahanya dan dengan wajah yang gelisah. Mungkin pas makan tadi dia minum kebanyakan, sekarang jadi kebelt deh.

B: "Sorry gue tadi dah mau tidur, yaudah yok ke sumur"
kemudian gw buka pintu dan si Iin menghambur ke luar dengan jalan pelan-pelan sambil merapetin pahanya.

Tak lama kita pun nyampe sumur yang penerangannya cuma lampu 15 watt.

B: "Dah gw tunggu sini aja ya"
I: "Ih apa-apaan sih kamu gw takut, deketan sini napa"
B: "Iya deh"

gw ngedeket ke dia jarak kami sekitar 1 m

I: "Balik badan gih, malu gue tau "
B: "Iya-iya, bawel banget sih"

Padahal gw pengen liat dia kencing , pas gue balik badan kedengeran suara kencingnya dia pssssssssssssss pissss currrrr gitu efek suaranya, belom selesai dia pipis, eh tau-tau dia teriak
I: " awwwww ada tikussssssss!!!!"

sontak dia berdiri dan loncat peluk gw dari belakang, jadi posisinya gue gendong dia secara reflek tubuh gw kan terbebani dan tangan gw reflek ke belakang buat nahan bokong dia dan secara gak sengaja gue nyentuh memeknya yang masih basah sama pipis, memeknya doi ternyata anget-anget, sama bulu memeknya cuma sedikit, kesempatan nih megang memeknya gak sengaja. Duh kontol gw jadi mulai bangkit nih dan memberontak di balik celana.

B: "Mana tikusnya ?" dengan suara agak gemetar panas dingin
I: "Tadi di kaki gue..."
B: “Mana gak ada kok???” sambil pegang elus-elusmemeknya di gendongan
I: "Awwww, idih tangannya nakal ya " sambil loncat dari gendongan

Doi terus turun dari gendongan gw.

B: " Ih apa-apaan sih loe, gue kan gak sengaja reflek tau" kata gw, muka dia merah tomat malu kali.

yah gimana nih celana gue basah (doi pake baju tidur model celana pendek) sambil nutupin memeknya pake tangan

B: "salah lo sendiri ngapain pipis pake loncat "
I: "gimana nih tolongin gue dong, gue malu nih masa' pulang gak pake celana, gue jijik nih soalnya celana gue dah kena pipis”
B: "yaudah gak usah dipake aja, kita pulang yuk, dingin nih di luar”
Eh beneran, tiba-tiba dia buka celana dan CD-nya yang masih nyangkut dilutut, waduh kontol gw makin keras nih.
I: “apa liat-liat? Nih makan” dia lempar celana ke muka gw, kecium deh bau harum pipisnya, wah kurang ajar nih barangnya belom dapet Cuma bau kuahnya doang. Pas gw singkirkan celana dari muka gw liat dia udah lari-lari kecil dengan tubuh setengah telanjang bagian bawah ke rumah, gue kejar dia dari belakang lumayan liat bongkahan pantat mulus putih bin semok ,,,,
Karena jalan yang dilalui menuju rumah Pak Kades gelap, maka saat dia lari kakinya tidak sengaja kesandung batu dan jatuhlah Iin dan teriak
“aduhhhhh....!!!!” kemudian dia duduk sambil pegangin lututnya yang berdarah. Akupun mendekat, kulihat di keremangan cahaya bulan lututnya berdarah “Bim, sakit nih..!!!” keluhnya, tampak air mata mengalir dari pelupuk matanya yang indah, kasihan juga gw melihatnya. “wah berdarah nih, harus segera diobati nanti bisa infeksi, Lo masih bisa jalan gak iin???” kataku

“perih nih lututku kalo ditekuk, gendong ya?” pintanya, bagai ketiban durian runtuh gw pun segera gendong dia. Gendong dia di depan lagi padahal dia kan belom pake CD, waduh kontol ane jadi mulai bangkit lagi ngeliatin memek dia aseeeeeeeem batinku dalam hati. Kubuka pintu belakang dan kududukkan dia di ruang dapur kursi makan “aku ambil kotak P3K dulu ya” kataku.

Aku pun mencari-cari kotak P3K di dalam tas di kamar. Segera setelah ketemu gw bergegas balik lagi ke dapur. “maaf ya lama, habis tasku ketumpuk di bawah” kataku. Kubuka kotak P3K dan mengambil kapas dan Alkohol untuk mensterilkan luka di lututnya. “aduh...!!!” teriaknya sambil meringis kesakitan, “Ssssssssstttt...jangan teriak-teriak nanti pada bangun”. Setelah itu kututup lukanya dengan perban yang diberi Betadine. “Bim, sorry banget yah udah ngrepotin kamu and makasih banyak dah nolongin aku selama ini” katanya

“Gapapa kok Iin kita kan dah lama jadi sahabat, lagian aku rela kok nolongin gadis secantik kamu” wajah dia memerah waktu aku mengatakan itu kepadanya.
“Bim, sebenernya aku tuh sudah lama suka sama kamu tapi aku gak berani ngungkapinnya,,,” katanya. Mendengar pernyataan yang jujur tersebut gw kaget juga nih karena sebenernya gw juga udah naksir dia tapi gak berani ngungkapinnya betapa bodohnya aku ini. “Iinnnnn, kalo boleh jujur gw juga udah lama naksir ama kamu” kataku agak gugup.

Dan sekonyong-konyong tanpa gw sadari dia langsung nyosor aja ke bibir gw, waduh kaget juga gw mendapatkan perlakuan yang beginian, tak tahu harus berbuat apa secara naluri kelakian gw bangkit, tangan gw mulai menjamah pundaknya kemudian turun ke buah dadanya yang masih memakai baju tidur. Kami melakukan French kiss cukup lama, lidah dan bibir kita saling berpagutan. Kurasakan toketnya semakin mengencang, ujung payudaranya mengeras, dapat gw rasakan dari sentuhan dari luar baju tidurnya.

Bagai magnet yang tidak mau lepas ciuman kami pun makin panas, tanganku pun terus meraba-raba tubuhnya hingga sampai ke bongkahan pantatnya yang kenyal dan montok, kuremas-remas dia merintih-rintih keenakan. Karena sudah tidak memakai celana dalam tanganku bebas menjelajahi, mengelus, dan memilin bagian vaginanya, kuelus-elus bulu pubiknya yang dicukur rapi kemudian turun menuju celah kecil yang di dalamnya terdapat benjolan kecil seperti kacang yang gw tahu dari pelajaran biologi bahwa itu namanya klitoris yang merupakan bagian sensitif dari seorang wanita. Iin, mendesis pelan “ssshhhh ahhh” saat ku sentuh bagian clit-nya. Kontolku pun makin mengeras dan semakin tersiksa di balik celana pendek yang kupakai.

Dengan inisiatif sendiri Iin mencopot celana pendekku dengan CD-nya, diapun kaget “Bim, gede bener punya kamu” katanya, kontolku emang gede, kemudian dia menunduk dan dipeganglah senjata gw yang sudah dari tadi tegang dikocoknya pelan dan akupun melenguh “ahhhh inn enak bangettttt” kulihat cairan pelumas dah keluar dari batang kontolku, diapun terus mengocok kontolku. “Iin, buka ya bajunya” pintaku, iapun duduk di meja dan menanggalkan bajunya, terlihatlah payudara yang dibungkus bra warna putih berenda, kemudian kubantu dai membuka bra-nya, karena ikatannya ada di belakang. Sambil membantu kulihat matanya sudah sayu menatapku, kupagut kembali bibirnya yang merah dan kenyal tersebut.Sambil berciuman diapun ikut membuka kaosku, sehingga kini terlihatlah dua makhluk berbeda jenis telanjang tanpa selembar kainpun menutupi. Kedua makhluk yang dimabuk cinta sedang bergumul di dapur di atas meja makan yang terbuat dari kayu jati.

Setelah puas berciuman di bibir, gw pun mulai menciumi dan menjilati bagian belakang kupingnya, kemudian dengan pelan-pelan turun menyelusuri tubuhnya yang putih mulus tanpa cacat ke bagian buah dadanya, buah dadanya cukup montok dengan bentuk seperti buah pepaya sekel sekali, dengan warna puting merah muda dengan lingkar puting yang tidak terlalu lebar. Kuemut payudara sebelah kanan dan kuremas dengan halus melingkar payudara sebelah kiri. Diapun mendesis merasakan antara geli dan nikmat “ahhhhhhhh bimm...!!!” sambil menjambak rambutku dia mendesis pelan. Tak puas sampai di situ akupun turun menjilati bagian perutnya dan bermain-main dengan pusarnya, pusarnya sungguh bersih, tiada kotoran maupun daki di dalamnya. Tak lama di bagian itu akupun turun ke bawah melihat gundukan daging yang terlihat menggemaskan dengan dihiasi rambut yang dicukur rapi, dan dengan celah yang masih sempit. Sejenak kutatap bentuk memeknya masih merah muda indah sekali...ohh...inikah surga dunia.

Tak lama pun dengan naluri kelakianku kujilat memeknya, kujulurkan lidahku pada bagian lubangnya diapun kembali mendesis “ahhhh Bim, jangan di jilat aku belom cebok tadi, apa lo gak jijik?” katanya, akupun tidak menghiraukan perkataannya, memang sih ada bau pesingnya sedikit, tapi udah kepalang tanggung. Memeknya kujilati terus kumainkan klitorisnya, diapun semakin menikmati jilatanku dengan mendesis-desis dan menekan kepalaku ke bagian kewanitaanya. “Ahhhhhhhhhhh....aku mau keluar Bim...!!!” jeritnya, tubuhnya pun bergetar hebat pinggulnya dan pahanya menegang, tiba-tiba menyemprotlah dengan deras cairan kewanitaannya ke wajahku. Wah ternyata dia orgasme dengan squirting...sungguh pemandangan indah yang baru kali ini kunikmati. Akupun bangkit dan mulai mengarahkan kontolku ke memeknya yang udah basah. Tapi tiba-tiba dia pegang kontolku dan mulai menjilatnya waduhhh enak tenan pokoknya.

Pengalaman Seru Ngeseks Saat KKN

By Unknown →